Rabu, 17 Agustus 2011

CINTA MENGALAHKAN KETAKUTAN

18 Agustus 2011

Di dalam kasih tidak ada ketakutan; Kasih yang sempurna melengkapkan ketakutan; Sebab ketakutan mengandung hukuman, dan barang siapa takut, dia tidak sempurna di dalam kasih.

1 Yohannes 4:18

Di akhir tahun delapan puluhan, suami saya Larry dan saya menjalin hubungan akrab dengan sepasang suami-istri, dan kami berempat banyak melakukan kegiatan bersama-sama. Kemudia, tanpa diduga, pasangan itu tiba-tiba menghilang, mengasingkan diri dan akhirnya terkucil. Kejadian itu membuat kami bertanya-tanya apakah kami pernah menyakiti mereka tanpa kami sadari, tetapi kami tidak tahu. setiap kali kami menanyakan kesalahan, mereka akan memberikan jawaban yang sama: "Tidak, tidak ada yang salah."
Suatu malam, saat Larry dan saya membahas kembali peristiwa itu, kami merasakan luka yang sangat dalam ketika diperlakukan orang lain dengan tidak sopan. Akhirnya sambil marah Larry berseru, "Saya mau menelpon mereka sekarang juga dan menemukan akar masalahnya!" Saya tahu pertentangan akan timbul, saya merasa cemas dan berdebar-debar. Mengapa hal yang bersifat pertentangan selalu menjengkelkan saya??
Pada saat itu, saya mengingat ungkapan yang pernah saya baca dalam buku Gerald Jampolsky, Love Is Letting Go of Fear ( Cinta Mengalahkan Ketakutan ): Jika kita melakukan pertentangan dengan niat untuk menolong orang lain dan bukan menyerangnya, tidak akan timbul ketakutan. Lebih baik kita bertindak dengan kasih dan penuh perhatian. Kita harus sadar bahwa orang yang kita ajak berdebat sebenarnya mengeluarkan kesedihan yang luar biasa meskipun dia mengungkapkannya dengan kemarahan.
Ketika saya membahas ungkapan ini bersama Larry, dia sepakat supaya kami sebaiknya tenang dan memikirkan kembali posisi kami. Ketika dia menelpon, saya merasakan damai sejahtera dan keadilan yang luar biasa. kami mendapat keterangan bahwa sahabat kami terluka karena kami mengabaikan mereka saat bisnis berkembang sehingga menyita waktu kami. Akibatnya kami tidak bisa sering bersama-sama mereka lagi. Dengan tidak saling menyalahkan, keadaan itu bisa membuat kami memandang jernih kedua sisi persoalan yang sebenarnya. Dengan kesabaran dan kasih, kami bisa merajut kembali tali persahabatan berharga yang pernah kami jalin selama bertahun-bertahun.

Bapa, tolong aku selalu memilih damai sejahtera daripada perselisihan. _ LIBBIE ADAMS

Sumber : Renungan Setiap Hari, oleh DAILY GUIDEPOSTS
Terbitan : KARISMA mei 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar